BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
kesehatan mental adalah terhindarnya orang dari
gejala-gejala gangguan jiwa (neurosa) dan dari gejala-gejala penyakit jiwa. Istilah
neurotik pertama kali dikemukakan oleh William Cullen (1764) mengacu pada
gangguan sensasi dari system syaraf. Pada saat itu, kondisi tersebut dianggap
merefleksikan malfungsi neuron yang tampil dalam perilaku. Kemudian keyakinan
ini hilang setelah Freud menemukan peranan psikologis di latar belakangnya, bukan
syaraf, sementara bukti untuk pendapat pertama ini tidak cukup signifikan.
Secara khusus Freud mengemukakan bahwa
neurotik merupakan tampilan dari konflik di dalam diri (inner conflict)
yang melibatkan keinginan-keinginan yang tidak
dapat dipenuhi karena adanya hambatan dari super ego, sedangkan ego tak
dapat membuat suatu keputusan untuk mendamaikannya.[1]
Dari berbagai penyelidikan dapat dikatakan
bahwa gangguan jiwa merupakan kumpulan dari keadaan-keadaan yang tidak normal.
Keabnormalan tersebut disebabkan oleh sakit atau rusaknya bagian-bagian anggota
badan, meskipun kadang-kadang gejalanya terlihat pada fisik. Keabnormalan
tersebut dapat dibagi atas dua golongan yaitu gangguan jiwa (neurose) dan sakit
jiwa (psychose). Namun, dalam makalah ini hanya akan diuraikan jenis-jenis gangguan
jiwa saja atau yang disebut dengan istilah neurosis.
B.
Rumusan Masalah
1. Apa pengertian dari psikoneurosa?
2. Apa saja jenis-jenis psikoneurosa beserta
gejala dan penyebabnya?
C.
Tujuan Penulisan
1. Menguraikan pengertian psikoneurosis.
2. Menyebutkan dan menjelaskan jenis-jenis
psikoneurosis beserta gejala dan penyebabnya.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Definisi Psikoneurosis
Psikoneurosis adalah sekelompok reaksi psikis
dicirikan secara khas dengan unsur kecemasan, yang secara tidak sadar
diekspresikan dengan menggunakan mekanisme pertahanan diri (Defence
mechanism). Psikoneurosa adalah satu penyakit mental lunak ditandai oleh
wawasan keliru mengenai sifat kesulitannya, konflik-konflik batin,
reaksi-reaksi kecemasan, kerusakan parsial pada struktur kepribadian, sering
ditandai fobia-fobia, gangguan pencernaan dan tingkah laku obsesi-kompulsi (JP.
Chaplin, 1981).[2]
Sebab-sebab utama penyakit psikoneurosis atau
yang lebih populer disingkat dengan nama
neurosis, antara lain faktor-faktor psikologis dan kultural, yang menyebabkan
timbulnya banyak stres dan ketegangan-ketegangan kuat yang kronis pada
seseorang. Sehingga pribadi mengalami frustrasi dan konflik-konflik emosional
dan pada akhirnya mengalami satu mental breakdown.[3]
Sedangkan sebab-sebab lainnya, yaitu
1. Ketakutan yang terus menerus dan sering tidak
rasional
2. Ketidakseimbangan pribadi
3. Konflik-konflik internal yang serius (khususnya
yang sudah dimulai sejak masa kanak-kanak)
4. Kurang adanya usaha dan kemauan
5. Lemahnya pertahanan diri
6. Adanya tekanan-tekanan sosial dan
tekanan-tekanan kultural yang sangat kuat, sehingga menyebabkan mental breakdown.[4]
B.
Jenis-Jenis Psikoneurosa
Jenis-jenis gangguan yang termasuk
psikoneurosis antara lain:
1.
Hysteria
Hysteria ialah gangguan jiwa yang terjadi
akibat ketidakmampuan seseorang menghadapi kesukaran-kesukaran, tekanan
perasaan, kegelisahan, kecemasan, dan pertentangan batin. Penderita tidak mampu
menghadapinya dengan cara yang wajar, lalu melepaskan tanggung jawab dan lari
secara tidak sadar kepada gejala-gejala histeria yang tidak wajar, ada yang berhubungan
dengan fisik dan ada pula yang berhubungan dengan mental.[5]
2.
Psikestenia, Fobia, obsesi, dan kompulsi
a. Psikestenia adalah semacam gangguan jiwa yang
bersifat paksaan, yang berarti kurangnya kemampuan jiwa untuk tetap dalam
keadaan integrasi yang normal.[6] Gejala
penyakit ini antara lain fobia, obsesi, kumpulsi.
b. Fobia yaitu ketakutan-ketakutan yang abnormal,
tidak riil, irasional, dan tidak bisa dikontrol terhadap suatu situasi atau
objek tertentu dan merupakan ketakutan khas neurotis, sebagai simbol dari
konflik-konflik neurotis. Seperi takut suara, takut ketinggian, takut pada
angin, dan lain-lain.[7]
c. Obsesi ialah gangguan jiwa, di mana penderita
dikuasai oleh suatu pikiran yang tidak bisa dihindarinya.[8] Gangguan
ini ditandai dengan merasa dikejar-kejar, tidak tenang, merasa selalu
terganggu, penuh ketegangan, seperti mau gila, kalau malam mendapat mimpi yang
menakutkan.[9]
d. Kompulsi ialah gangguan jiwa yang menyebabkan melakukan
sesuatu, baik masuk akal ataupun itu tidak dilakukannya.[10]
Keinginan ini tidak bisa dikontrol dan dikendalikan dan bertentangan dengan
kemauan yang sadar sewaktu-waktu melakukannya. Misalnya keinginan mandi terus
menerus mandi dan mencuci tangan, menghitung tiang listrik waktu naik kereta
api, mengitari kursi sebelum duduk di atasnya.[11]
3. Tics, ialah macam-macam gerak facial
atau gerak muka/wajah yang seperti dipaksakan; yaitu gerak-gerak pengejangan
yang habitual dari satu kelompok kecil otot-otot tertentu. Misalnya selalu
mengedip-ngedipkan mata, menggigit-gigit bir bagian atas, mengerut-ngerutkan
dahi, menggerak-gerakkan kepala, menggerak-gerakkan pipi, menjulingkan mata,
mengerut-ngerutkan cuping hidung, dan lain-lain.[12]
4.
Hipokondria
Hipokondria ialah kondisi kecemasan yang
kronis dan berlebih-lebihan. Terhadap kesehatan badannya. Orang tersebut merasa
betul-betul yakin bahwa dirinya mengidap penyakit yang serius. Setiap kesakitan
yang sekecil-kecilnya pun dirasakan sebagai suatu bencana yang luar biasa
hebatnya. Dan dirasakan bisa menyebabkan kematiannya.[13] Pada
dasarnya adalah terlalu pedulinya ia pada badannya. Misalnya terjadi pada
mereka yang sewaktu berusia muda terlalu dijaga dari kegiatan yang memungkinkan
sakit, misalnya hujan-hujanan atau panas-panasan.[14]
5. Neurastenia ialah bentuk psikoneurosis yang
ditandai oleh kondisi syaraf-syaraf yang lemah, tidak memiliki energi hidup dan
dibarengi perasaan capek-lelah yang hebat dan terus menerus (selalu merasa amat
lelah), macam-macam rasa sakit serta rasa nyeri, hingga penderita jadi malas
dan segan berbuat sesuatu. Dalam buku Kesehatan Mental karangan Zakiah
Daradjat, neurastenia ini disebut sebagai penyakit payah, karena penderita
merasa tidak dapat tidur, sehingga ia merasa gelisah, sering pusing, sering
merasa dihinggapi oleh bermacam-macam penyakit yang menyebabkan ia sering
memeriksakan dirinya ke dokter, pikirannya selalu diganggu oleh masalah-masalah
mati dan penyakit.[15]
6. Neurosis kecemasan, ialah satu tipe neurosis
dengan simtom utamanya ialah kecemasan yang tidak disebabkan oleh satu
rangsangan/sebab khusus; sifatnya kronis dan mendalam, serta mempengaruhi
daerah-daerah penting dari kehidupan seseorang. Penderita terus-menerus dalam
ketakutan dan kecemasan, ada saja yang mencemaskan dan hampir setiap kejadian
menyebabkan timbulnya rasa takut dan cemas.[16]
7. Psikosomatism ialah bentuk macam-macam
penyakit fisik yang ditimbulkan oleh konflik-konflik psikis/psikologis dan
kecemasan-kecemasan kronis. Konflik-konflik psikis atau psikologis dan
kecemasan bisa menjadi sebab timbulnya bermacam-macam penyakit jasmani; atau
bisa juga membuat semakin beratnya suatu penyakit jasmani yang telah ada.[17]
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwasanya gangguan
jiwa atau yang disebut dengan neurosis. Psikoneurosis itu sendiri adalah
sekelompok reaksi psikis dicirikan secara khas dengan unsur kecemasan, yang
secara tidak sadar diekspresikan dengan menggunakan mekanisme pertahanan diri (Defence
mechanism). Salah satu gangguan kejiwaan yang termasuk psikoneurosis adalah
hysteria. Gangguan ini terjadi akibat ketidakmampuan menghadapi kesukaran,
kegelisahan, dan pertentangan batin.
No comments:
Post a Comment