Monday, November 2, 2015

psikoneurosa

BAB I
PENDAHULUAN

A.                Latar Belakang
kesehatan mental adalah terhindarnya orang dari gejala-gejala gangguan jiwa (neurosa) dan dari gejala-gejala penyakit jiwa. Istilah neurotik pertama kali dikemukakan oleh William Cullen (1764) mengacu pada gangguan sensasi dari system syaraf. Pada saat itu, kondisi tersebut dianggap merefleksikan malfungsi neuron yang tampil dalam perilaku. Kemudian keyakinan ini hilang setelah Freud menemukan peranan psikologis di latar belakangnya, bukan syaraf, sementara bukti untuk pendapat pertama ini tidak cukup signifikan.
Secara khusus Freud mengemukakan bahwa neurotik merupakan tampilan dari konflik di dalam diri (inner conflict) yang melibatkan keinginan-keinginan yang tidak  dapat dipenuhi karena adanya hambatan dari super ego, sedangkan ego tak dapat membuat suatu keputusan untuk mendamaikannya.[1]
Dari berbagai penyelidikan dapat dikatakan bahwa gangguan jiwa merupakan kumpulan dari keadaan-keadaan yang tidak normal. Keabnormalan tersebut disebabkan oleh sakit atau rusaknya bagian-bagian anggota badan, meskipun kadang-kadang gejalanya terlihat pada fisik. Keabnormalan tersebut dapat dibagi atas dua golongan yaitu gangguan jiwa (neurose) dan sakit jiwa (psychose). Namun, dalam makalah ini hanya akan diuraikan jenis-jenis gangguan jiwa saja atau yang disebut dengan istilah neurosis.

B.                 Rumusan Masalah
1.    Apa pengertian dari psikoneurosa?
2.    Apa saja jenis-jenis psikoneurosa beserta gejala dan penyebabnya?

C.                 Tujuan Penulisan
1.    Menguraikan pengertian psikoneurosis.
2.    Menyebutkan dan menjelaskan jenis-jenis psikoneurosis beserta gejala dan penyebabnya.


BAB II
PEMBAHASAN

A.                Definisi Psikoneurosis
Psikoneurosis adalah sekelompok reaksi psikis dicirikan secara khas dengan unsur kecemasan, yang secara tidak sadar diekspresikan dengan menggunakan mekanisme pertahanan diri (Defence mechanism). Psikoneurosa adalah satu penyakit mental lunak ditandai oleh wawasan keliru mengenai sifat kesulitannya, konflik-konflik batin, reaksi-reaksi kecemasan, kerusakan parsial pada struktur kepribadian, sering ditandai fobia-fobia, gangguan pencernaan dan tingkah laku obsesi-kompulsi (JP. Chaplin, 1981).[2]
Sebab-sebab utama penyakit psikoneurosis atau yang lebih  populer disingkat dengan nama neurosis, antara lain faktor-faktor psikologis dan kultural, yang menyebabkan timbulnya banyak stres dan ketegangan-ketegangan kuat yang kronis pada seseorang. Sehingga pribadi mengalami frustrasi dan konflik-konflik emosional dan pada akhirnya mengalami satu mental breakdown.[3]
Sedangkan sebab-sebab lainnya, yaitu
1.      Ketakutan yang terus menerus dan sering tidak rasional
2.      Ketidakseimbangan pribadi
3.      Konflik-konflik internal yang serius (khususnya yang sudah dimulai sejak masa kanak-kanak)
4.      Kurang adanya usaha dan kemauan
5.      Lemahnya pertahanan diri
6.      Adanya tekanan-tekanan sosial dan tekanan-tekanan kultural yang sangat kuat, sehingga menyebabkan mental breakdown.[4]

B.                 Jenis-Jenis Psikoneurosa
Jenis-jenis gangguan yang termasuk psikoneurosis antara lain:
1.      Hysteria
Hysteria ialah gangguan jiwa yang terjadi akibat ketidakmampuan seseorang menghadapi kesukaran-kesukaran, tekanan perasaan, kegelisahan, kecemasan, dan pertentangan batin. Penderita tidak mampu menghadapinya dengan cara yang wajar, lalu melepaskan tanggung jawab dan lari secara tidak sadar kepada gejala-gejala histeria yang tidak wajar, ada yang berhubungan dengan fisik dan ada pula yang berhubungan dengan mental.[5]
2.      Psikestenia, Fobia, obsesi, dan kompulsi
a.       Psikestenia adalah semacam gangguan jiwa yang bersifat paksaan, yang berarti kurangnya kemampuan jiwa untuk tetap dalam keadaan integrasi yang normal.[6] Gejala penyakit ini antara lain fobia, obsesi, kumpulsi.
b.      Fobia yaitu ketakutan-ketakutan yang abnormal, tidak riil, irasional, dan tidak bisa dikontrol terhadap suatu situasi atau objek tertentu dan merupakan ketakutan khas neurotis, sebagai simbol dari konflik-konflik neurotis. Seperi takut suara, takut ketinggian, takut pada angin, dan lain-lain.[7]
c.       Obsesi ialah gangguan jiwa, di mana penderita dikuasai oleh suatu pikiran yang tidak bisa dihindarinya.[8] Gangguan ini ditandai dengan merasa dikejar-kejar, tidak tenang, merasa selalu terganggu, penuh ketegangan, seperti mau gila, kalau malam mendapat mimpi yang menakutkan.[9]
d.      Kompulsi ialah gangguan jiwa yang menyebabkan melakukan sesuatu, baik masuk akal ataupun itu tidak dilakukannya.[10] Keinginan ini tidak bisa dikontrol dan dikendalikan dan bertentangan dengan kemauan yang sadar sewaktu-waktu melakukannya. Misalnya keinginan mandi terus menerus mandi dan mencuci tangan, menghitung tiang listrik waktu naik kereta api, mengitari kursi sebelum duduk di atasnya.[11]
3.      Tics, ialah macam-macam gerak facial atau gerak muka/wajah yang seperti dipaksakan; yaitu gerak-gerak pengejangan yang habitual dari satu kelompok kecil otot-otot tertentu. Misalnya selalu mengedip-ngedipkan mata, menggigit-gigit bir bagian atas, mengerut-ngerutkan dahi, menggerak-gerakkan kepala, menggerak-gerakkan pipi, menjulingkan mata, mengerut-ngerutkan cuping hidung, dan lain-lain.[12]
4.      Hipokondria
Hipokondria ialah kondisi kecemasan yang kronis dan berlebih-lebihan. Terhadap kesehatan badannya. Orang tersebut merasa betul-betul yakin bahwa dirinya mengidap penyakit yang serius. Setiap kesakitan yang sekecil-kecilnya pun dirasakan sebagai suatu bencana yang luar biasa hebatnya. Dan dirasakan bisa menyebabkan kematiannya.[13] Pada dasarnya adalah terlalu pedulinya ia pada badannya. Misalnya terjadi pada mereka yang sewaktu berusia muda terlalu dijaga dari kegiatan yang memungkinkan sakit, misalnya hujan-hujanan atau panas-panasan.[14]
5.      Neurastenia ialah bentuk psikoneurosis yang ditandai oleh kondisi syaraf-syaraf yang lemah, tidak memiliki energi hidup dan dibarengi perasaan capek-lelah yang hebat dan terus menerus (selalu merasa amat lelah), macam-macam rasa sakit serta rasa nyeri, hingga penderita jadi malas dan segan berbuat sesuatu. Dalam buku Kesehatan Mental karangan Zakiah Daradjat, neurastenia ini disebut sebagai penyakit payah, karena penderita merasa tidak dapat tidur, sehingga ia merasa gelisah, sering pusing, sering merasa dihinggapi oleh bermacam-macam penyakit yang menyebabkan ia sering memeriksakan dirinya ke dokter, pikirannya selalu diganggu oleh masalah-masalah mati dan penyakit.[15]
6.      Neurosis kecemasan, ialah satu tipe neurosis dengan simtom utamanya ialah kecemasan yang tidak disebabkan oleh satu rangsangan/sebab khusus; sifatnya kronis dan mendalam, serta mempengaruhi daerah-daerah penting dari kehidupan seseorang. Penderita terus-menerus dalam ketakutan dan kecemasan, ada saja yang mencemaskan dan hampir setiap kejadian menyebabkan timbulnya rasa takut dan cemas.[16]
7.      Psikosomatism ialah bentuk macam-macam penyakit fisik yang ditimbulkan oleh konflik-konflik psikis/psikologis dan kecemasan-kecemasan kronis. Konflik-konflik psikis atau psikologis dan kecemasan bisa menjadi sebab timbulnya bermacam-macam penyakit jasmani; atau bisa juga membuat semakin beratnya suatu penyakit jasmani yang telah ada.[17]


BAB III
PENUTUP
A.                     Kesimpulan
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwasanya gangguan jiwa atau yang disebut dengan neurosis. Psikoneurosis itu sendiri adalah sekelompok reaksi psikis dicirikan secara khas dengan unsur kecemasan, yang secara tidak sadar diekspresikan dengan menggunakan mekanisme pertahanan diri (Defence mechanism). Salah satu gangguan kejiwaan yang termasuk psikoneurosis adalah hysteria. Gangguan ini terjadi akibat ketidakmampuan menghadapi kesukaran, kegelisahan, dan pertentangan batin.



[1] Sutardjo A. Wiramihardja, Pengantar Psikologi Abnormal, (Bandung: PT. Refika Aditama, 2005), h.67.
[2] Kartini Kartono, Psikologi Abnormal dan Abnormalitas Seksual, (Bandung: CV. Mandar Maju, 2009), h. 97.
[3] Ibid., h. 98.
[4] Ibid., h. 98.
[5] Zakiah Darajadjat, Kesehatan Mental, (Jakarta: Toko Gunung Agung, 2001), h.29
[6] Ibid., h. 36
[7] Kartini Kartono, Psikologi Abnormal dan Abnormalitas Seksual, h. 112-123
[8] Zakiah Darajadjat, Kesehatan Mental, h. 37
[9] Kartini Kartono, Psikologi Abnormal dan Abnormalitas Seksual, h. 111.
[10] Zakiah Darajadjat, Kesehatan Mental, h. 37.
[11] Kartini Kartono, Psikologi Abnormal dan Abnormalitas Seksual, h. 121.
[12] Ibid., h. 122-123.
[13] Ibid., h. 126-127
[14] Sutardjo A. Wiramihardja, Pengantar Psikologi Abnormal, h. 81
[15] Zakiah Darajat, Kesehatan mental, (Jakarta: Toko Agung Gunung, 2001), h.27
[16] Kartini Kartono, Psikologi Abnormal dan Abnormalitas Seksual, h. 127
[17] Ibid., h. 128

No comments:

Post a Comment