BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Setiap tokoh psikologi kepribadian mempunyai ciri khas
masing-msing dari teori yang mereka kembangkan. Salah satu tokoh psikologi
kepribadian adalah Harry Stack Sullivan. Harry Steak Sulivan adalah orang
pertama kelahiran Amerika Serikat yang mengembangkan teori kepribadian.
Menurutnya, kepribadian adalah pola yang relatif menetap dari situasi-sitausi
antara pribadi yang berulang, yang menjdai ciri kepribadian manusia. Kepribadian
itu konstruk hipotesis yang dapat diamati dalam konteks tingkah laku
interpersonal. Sepanjang hayat setiap orang bergerak dalam lingkungan sosial,
sejak bayi sudah terlibat dengan interaksi dengan orang lain. Bahkan ketika
orang sendirian pun, orang lain muncul dalam fikiran, perasaan, dan fantasinya.
Sullivan tidak menyangkal pentingnya hereditas dan pematangan dalam membentuk dan
membangun kepribadian. Namun ia berpendapat apa yang khas manusiawi adalah
interaksi sosial. Pengalaman hubungan antar pribadi telah merubah fungsi
fisiologik organisme (sehingga manusia kehilangan kesatuan biologiknya) menjadi
organisme sosial, bahkan sosialisasi telah merubah proses bilogisk yang paling
mendasar (bernapas, pencernaan, eliminasi). Prikiatri tidak dapat dipisahkan
dari psikologi sosial.
sangat penting bagi kita semua untuk mengetahui siapa
Harry Stack Sullivan beserta teorinya agar wawasan yang kita miliki semakin
luas. Oleh karena itu, dalam makalah ini akan diuraikan tokoh Sulllivan sebagai
salah satu tokoh psikiatri dan juga tokoh psikologi kepribadian.
B.
Rumusan Masalah
1. Bagaimana sejarah hidup Harry Stack Sullivan?
2. Apa saja struktur kepribadian manusia menurut
pandangan Sullivan?
3. Bagaimana dinamika kepribadian manusia menurut
Sullivan?
4. Bagaimana perkembangan kepribadian maunsia
menurutSullivan?
5. Apa saja aplikasidari teori yang dikemukakan
oleh Sullivan?
C.
Tujuan Penulisan
1. Mengetahui biografi singkat Sullivan
2. Mengetahui struktur kepribadian manusia
menurut pandangan Sullivan
3. Mengetahui dinamika kepribadian manusia
menurut Sullivan
4. Mengetahui perkembangan kepribadian maunsia
menurutSullivan
5. Mengetahui aplikasi dalam kehidupan manusia
berdasarkan teori yang dikemukakan oleh Sullivan
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Biografi Harry Stack Sullivan
Harry satck sullivan lahir di suatu daerah
dekat Norwich, New York, pada tanggal 21 Februari 1892. Dia meraih gelar
dokternya dari Chicago College of Medcine and surgery pada tahun 1917 dan
bekerja pada angakatan bersenjata selama perang dunia 1. Setelah itu ia menjadi
petugas medis pada Federal Board For Vocational education dan kemudian bertugas
pada Public Health Service. Pada tahun 1922, Sullivan pergi ke rumah sakit
Santa Elizabeth di Washington D. C., di mana ia berada di bawah pengaruh
William Alanson White, seorang pakar dalam ilmu Neuroppsikiatri di Amerika.
Dari tahun 1923 sampai awal tahun 1930 ia
bekerja pada fakultas Kedokteran, Universitas Maryland dan pada Sheppard and
Enoch Pratt Hospital di Townson, Maryland. Selama periode kehidupan inilah,
Sullivan mengadakan penelitian-penelitian tentang skizofernia yang membuatnya
terkenal sebagai ahli klinik. Ia meninggalkan Maryland untuk membuka kantor di
Park Avenue di New York City dengan tujuan untuk menyelidiki proses obsesi pada
pasien-pasien kantor. Pada saat itu, ia memulai pendidikan analitik formalnya
di bawah bimbingan Clara Thompson, seorang murid dari Sandor Ferenczi. Ini
bukanlah perkenalan Sullivan untuk pertama kalinya dengan psikoanalisis. Ia
telah melakukan analisis selama 75 jam ketika ia masih masih menjadi mahasiswa
kedokteran. Pada tahun 1933 menjadi ketua William Alanson White Fondation
sampai tahun 1943. Pada tahun 1936 ia membantu yayasan itu dengan menjadi
direktur Washington School of Psychiatry. Jurnal Psychiatry mulai diterbitkan
pada tahun 1938 untuk mempromosikan teori Sullivan tentang hubungan-hubungan
antarpribadi. Ia menjadi pembantu redaktur majalah tersebut dan kemudian
menjadi redaktur sampai dia meninggal. Dan meninggal pada tanggal 14 januari
1949 di Paris, Perancis ketika dalam perjalanan pulang dari pertemuan badan
eksekutif World Federation For Mental Health di Amsterdam.
B.
Stuktur Kepribadian
Sullivan tegas memandang sifat dinamik
kepribadian, sehingga merendahkan konsep id-ego-superego dan lain-lain yang
membuat kepribadian menjadi statis atau stabil. Namun ternyata dia juga
memberikan tempat penting dalam teorinya, beberapa aspek kepribadain ynag
nyata-nyata stabil dalam waktu yang lama yaitu dinamisme, personifikasi, sistem
self, dan proses kognitif.
1.
Dinamisme (dynamisn)
Dinamisme adalah pola khas tingkah laku
(transformasi energi) yang menetap dan terjadi secara berulang yang menjadi
ciri khas seseorang. Pola tingkah laku itu menetap dan berulang sehingga kurang
lebih sama dengan kebiasaan.
Dinamisme yang melayani kebutuhan kepuasan
organisme melibatkan bagian tubuh, yakni alat reseptor, efektor, dan sistem
syaraf. Misalnya dinamisme makan melibatkan mulut dan otot leher, dinamisme
seks melibatkan organ genital. Suatu kebiasaan bagaimana mereaksi orang lain,
baik dalam bentuk perasaan, sikap, maupun tingkah laku terbuka. Dinamisme
dengki (memusuhi orang atau kelompok tertentu); dinamisme nafsu (kecenderungan
mencari hubungan birahi); dinamisme ketakutan (anak yang bersembunyi dibelakang
ibunya setiap menghadapi orang asing, dan dinamisme sistem self).
2. Personifikasi (personification)
Personifikasi adalah suatu gambaran mengenai
diri atau orang lain yang dibangun berdasarkan pengalaman yang menimbulkan kepuasan atau kecemasan. Hubungan
interpersonal yang memberi kepuasan cenderung membangkitkan image positif,
sebaliknya yang melibatkan kecemasan membangkitkan image negatif.
Gambaran tentang diri sendiri yang berkembang
adalah saya yang baik (good me) yang dikembangkan dari pengalaman
hadiahi, dimulai dengan hadiah kepuasan makan. Personifikasi saya buruk (bad
me) dikembangkan dari pengalaman kecemasan akibat perlakuan ibu atau
pengalaman ditolak atau dihukum. Good me dan bad me bergabung ke
dalam gambaran diri. Personifikasi diri yang ketiga, bukan saya (not-me)
dikembangkan dari pengalaman kecemasan yang sangat, seperti kekerasan fisik
atau mental. Not-me menggambarkan aspek yang dipisahkan dari self dan
disertai dengan emosi unkani (uncanny) atau emosi yang mengerikan dan
berbahaya. Orang yang mengalami gangguan mental yang serius, mungkin berhadapan
dengan bukan saya sebagai sesuatu yag sangat nyata. Sejumlah orang bisa
memiliki personifikasi yang seragam mengenai sesuatu yang disebut stereotype.
Inilah konsepsi-konsepsi yang diakui bersama, diterima bersama, diterima secara
luas di masyarakat bahkan diwariskan antar generasi.
3. Sistem self (self
system)
Sistem self merupakan bagian dinamisme yang
paling kompleks. Sistem ini mulai berkembang pada usia 12-18 bulan, usia ketika
anak mulai belajar tingkah laku mana yang berhubungan-meningkatkan atau
menurunkan-kecemasan. Pada mulanya bayi hanya mengenalkan keadaan takut dan
sakit sebagai hal yang tidak menyenangkan. Ibu atau peran keibuan mengajari anak
dengan ganjaran dan hukuman, dan dari hukuman inilah muncul kecemasan. Dari
kecemasan tersebut, orang berusaha mempertahankan diri melawan tegangan interpersonal
itu memakai operasi keamanan (securyty operations). Ada beberapa macam
operasi keamaan yang dipakai sejak usia bayi, disosiasi (dissosiation),
inatensi (innatention), apati (apathy), dan pertahanan tidur (somnolen
detachnent).
a. Disosisasi adalah mekanisme menolak impuls,
keinginan, dan kebutuhan muncul ke kesadaran. Disosiasi tidak hilang, tetapi
ditekan ke ketidaksadaran dan mempengaruhi kepribadain dan tingkah laku dari
sana. Misalnya, melalui mimpi, lamuna, dan aktifitas tak sengaja yang semuanaya
diarahkan untuk mempertahankan keamanan interpersonal.
b. Inatensi adalah operasi keamanan yang berusaha
menghadapi pengalaman yang mengancam personifikasi diri, dengan cara orang
berpura-pura tidak merasakannya. Memilih mana pengalaman yang akan diperhatikan
dan mana yang tidak perlu diperhatikan.
c. Apati (aphaty) dan pertahanan dengan
tidur mirip dengan inatensi, pada apatis bayi, tidak memilih obyek mana yang harus
diperhatikan, semuanya diserahkan kepada pihak luar. Pada pertahana tidur bayi,
tidak perlu memeperhatikan stimulasi yang manapun.
4. Proses kognitif
(cognitive process)
Proses kognitif atau pengalam kognitif manusia
menurut sullivan dapat dikelompokkan menjadi tiga macam, mengikuti alur perkembangan
dan kemasakan organisme, yakni:
a. Prototaksis (prototaxis) adalah
rangkaian pengalaman yang terpisah-pisah yang dialami pada masa bayi, di mana
arus kesadaran (kesadaran, bayangan, dan perasaan) mengalir ke dalam jiwa tanpa
pengertian “sebelum” dan “sesudah”. Semua pengetahuan bayi adalah pengetahuan
saat itu, di sini, dan sekarang.
b. Parataksis kira-kira pada awal tahun kedua,
bayi mulai mengenali persamaan-persamaan dan perbedaan peristiwa yang disebut
dengan pengalaman parataksis atau pengalaman asosiasi. Pada tahap ini, bayi
mengembangkan cara berpikir melihat hubungan sebab akibat, asosiasional
peristiwa yang terjadi pada saat yag bersamaan atau peristiwa yang mempunyai
detile yang sama, tetapi hubungannya tidak harus logis. Mislanya, bayi yang
diberi makan saus apel memakai sendok yang terlau panas (karena disiram air
panas) sehingga lidahnya menjadi sakit. Bayi itu menolak makan bukan karena
saus apel, tetapi karena sendok.
c. Sintaksis. Berpikir logika dan realistik,
menggunakan lambang-lambang yang diterima bersama, khususnya
bahasa-kata-bilangan. Ketika anak mulai belajar berbicara, mempelajari “kata”
yang secara umum diterima sebagai wakil dari suatu peristiwa, saat itulah anak
mulai berpikir sintaksis. Sintaksis menghasilkan hubungan logis natar
pengalaman dan memungkin orang berkomunikasi satu dengan yang lainnya, melalui
proses falidasi konsensus mengenai sesuatu dan kemudia meyakinkan kebenaanyya
melalui pengulangan pengalaman. Normalnya, sistaksis mulai mendominasi sejal
usia 4-10 tahun.
C.
Dinamika kepribadian
Sullivan memandang kehidupan manusia sebagai sistem
energi, di mana perhatian utamanyan adalah bagaimana menghilangkan tegangan
yang ditimbulkan oleh keinginanan dan kecemasan. Energi dapat terwujud dalam bentuk-bentuk di bawah
ini:
1. Tegangan (tension)
Tension adalah potensi untuk bertingkah laku yang disadari atau
tidak diasadari. Sumber ketegangan itu ada dua, yaitu:
a. Kebutuhan (needs). Kebutuhan yang mula
pertama muncul adalah tegangan yang timbul akibat ketidak seimbangan biologis
di dalam diri individu atau ketidak seimbangan fisiokimia antara individu
dengan lingkungannya. Need biologic dipuaskan dngan memberi pasokan yang
dapat mengembalikan keseimbangan. Memuaskan kebutuhan dapat menghilangkan
tension. Kegagalan memuaskan need, kalau berkepanjangan dapat
menimbulkna keadaan apathy (kelesuan) yaitu bentuk penundaan kebutuhan
untuk meredakan tegangan secara umum.
b. Kecemasan (anxiety). Kecemasan menurut
sullivan merupakan pengaruh pendidikan yang paling besar sepanjang hayat,
disalurkan mula-mula oleh pelaku keibuan kepada bayinya. Jika ibu mengalami kecemasan,
dia akan menyatakannya pada wajahnya, irama katanya, dan tingkah lakunya, dan
bayi akan terinduksi sehingga merasakan kecemasan seperti yang dicemaskan
ibunya. Proses ini oleh Sullivan dinamakan empati. Sering tanda adanya
kecemasan dan ketidak amanan yang dimunculkan bayi diartikan sebagai kebutuhan
(need) oleh orang tua. Kecemasan juga menimbulkan dampak yang buruk kepada
orang dewasa, bahkan kecemasan menjadi kekuatan perusaj yang terpenting yang menghambat
perkembangan hubungan interpersonal.
2. Transformasi
energi (energy transformation)
Tegangan yang ditransformasikan menjadi tingkah laku,
baik tingkah laku terbuka maupun tertutup. Tingkah laku hasil transformasi itu
meliputi gerakan yang kasat mata, dan kegiatan mental seperti perasaan, dan
fikiran, persepsi, dan ingatan. Bentuk-bentuk kegiatan yang mampu mengurangi
tegangan menurut Sullivan dipelajari dan ditentukan oleh masyarakat di mana
orang itu dibesarkan. Apa yang dapat ditemukan pada masa lalu setiap orang
adalah tegangan-tegangan dan pola transformasi enerji untuk meredakannya, yang
menjadi saranan pendidikan menyiapkan anak menjadi anggota masyarakatnya.
Transformasi enerji tidak lagi dipengaruhi insting dan lebih sebagai hasil
belajar.
D.
Perkembangan Kepribadian
1. Bayi
(Infancy); lahir-bisa berbicara (0-18 bulan)
Perhatian utama bayi adalah makan, sehingga
obyek pertama yang menjadi pusat perhatiannya adalah puting susu ibu (atau
puting botol). Puting yang mewakili ibu setidaknya itu menimbulkan paling tidak
3 image, sesuai dengan pengalaman bayi dengan puting itu;
a.
Puting bagus (good nipple). Puting yang lembut
penuh kasih sayang dan menjanjikan kepuasan fisik (bisa terjadi, good nipple
tidak memuaskan karena diberikan kepada bayi yang tidak lapar).
b.
Bukan puting (not nipple). Puting yang salah
karena tidak mengeluarkan air susu, bahkan merupakan tanda penolakan dan
isyarat mencari puting yang lain.
c.
Puting buruk (bad nipple). Puting dari ibu yang
cemas, tidak memberi kasih sayang dan kepuasan fisik.
Pengalaman makan itu, akan membentuk
personifikasi ibu, puting bagus menjadi ibu baik (good mother) dan buka
puting atau puting buruk menjadi ibu buruk (bad mother). Personifikasi
ibu menjadi awal dari personifikasi diri sendiri. Bayi mulai membentuk gambaran
saya baik, bukan saya dan saya buruk (good me-not me-bad me), yang
menjadi dasar pemahaman diri.
2. Anak
(Childhood); bisa mnegucap kata-butuh kawan bermain (1,5-4 tahun)
Tahapan anak dimulai dengan perkembangan
bicara dan belajar berpikir sintaksis serta perluasan kebutuhan untuk bergaul
dengan kelompok sebaya. Misalnya, ibu baik dan ibu buruk menyatu dalam gambaran
orang yang dipanggil; ibu. Anak mulai belajar menyembunyikan aspek tingkah laku
yang diyakininya dapat menimbulkan kecemasan atau hukuman. Mereka memiliki
tampilan seolah-olah (as if permormance):
a. Dramatisasi (dramatization): permainan
peran seolah orang dewasa, belajar mengidentifikasikan diri dengan orang
tuanya, bagaimana bertingkah laku yang dapat diterima.
b. Bergaya sibuk (preoccupation): anak
belajar konsentrasi pada satu kegiatan yang memebuat mereka bisa menghindari
sesuatu yang menekan dirinya.
c. Transformasi jahat (malefolent
transformation): transformasi jahat-perasaan bahwa dirinya hidup
ditengah-tengah musuh, sehingga hidupnya penuh rasa kecurigaan dan
ketidakpercayaan bahkan smapai tingkah laku yang paranoid.
d. Sublimasi tak sadar (unwitting sublimation):
mengganti sesuatu atau aktifitas (tak sadar) yang dapat menimbulkan kecemasan
dengan aktifitas yang dapat diterima secara sosial.
Masa anak ditandai dengan emosi yang mulai
timbal balik, anak disamping menerima juga bisa memberi kasih sayang. Masa anak
juga bisa ditandai dengan akulturasi yang cepat. Disamping menguasai bahasa
anak belajar pola kultural dalam kebersihan, latihan toilet, kebiasaan makan.
3. Remaja awal (juvenile):
usia sekolah-berkeinginan bergaul intim (4-10 tahun)
Tahap ini
berlangsung sepanjang usia sekolah dasar sampaianak membutuhkan persahabatan
yang akrab, sekitar usia epuluh tahun. Perkembangan penting dlaa tahap ini
adalah locatan sosial kedepan, anak belajar kompetisi, kompromi, kerjasama, dan
memahami makna perasaan kelompok. Tahap ini ditandai dengan munculnya konsepsi
tentang orientasi hidup, suatu rumusan atau wawasan tentang:
a. Kecenderungan atau kebutuhan untuk
berintegrasi yang biasanya memberi ciri pada hubungan antar pribadinya.
b. Keadaan-keadaan yang cocok untuk pemuasan
kebutuhan dan relatif bebas dari kecemasan.
c. Tujuan-tujuan jangka panjang yang untuk
mencapainya orang perlu untuk menangguhkan kesempatan-kesempatan menikmati
kepuasan jangka pendek.
Perkembangan negatif yang penting dalam tahap
ini adalah stereotip, ostrasisme, dan disparajemen.
a. Prasangka atau stereotip adalah meniru atau
memakai personifikasi mengenai orang atau kelompok orang yang diturunkan antar
generasi.
b. Pengasingan atau ostrasisme adalah pengalaman
anak diisolasi secara paksa, dikeluarkan atau dikeluarkan dari kelompok sebaya
karna perbedaan sifat individual dengan kelompok.
c. Penghinaan atau disparajemen, berarti
meremehkan atau menjatuhkan orang lain yang akan berpengaruh merusak hubungan
interpersonal pada usia dewasa.
4. Preadolesen (preadolescence); mulai
bergaul akrab-pubertas (8/10-12 tahun).
Periode ini sangat singkat, berakhir sampai pubertas, tetapi sangat
penting. Ini ditandai oleh awal kemampuan bergaul akrab dengan orang lain,
bercirikan persamaan yang nyata dan saling memperhatikan. Menurut Sullivan,
melalui persahabatan karib (chumship) remaja mungkin dapat memecahkan
masalah pada tahap sebelumnya sepertisikap malefolent atau kecenderungan
disparajemen. Melalui chum nak belajar bahwa orang dapat memberikan kelembutan,
perhatian, dan hormat. Hasilnya tidak perlu menyiapkan kemarahan atau menyerang
harga diri orang lain. Tanpa chum, preadolsen mungkin menjadi korban
kesendirian yang menyedihkan yang lebih
buruk daripada kecemasan, dan menjadi hambatan berat dalam menyelesaikan tugas
adolesen.
Tahap preadolsen di tandai oleh beberapa fenomena berikut:
a. orang tua masih penting. Tetapi mereka di
nilai secara lebih realistik.
b. Mengalami cinta yang tidak mementingkan diri
sendiri, dan belum di rumitkan oleh
hawa nafsu seks.
c. Terlibat dalam kerja sama untuk kebahagian
bersama, tidak mementingkan diri sendiri.
d. Kolaborasi chum, kalau tidak di pelajari dalam
tahap ini, akan membuat tahap perkembangan kepribadian berikutnya akan
terhambat.
e. Hubungan chum dapat mengatasi/menghilangkan
pengaruh simptom salah suai yang di peroleh dari perkembangan tahap sebelumnya.
5.
Adolsen Awal (Early Adolescence); pubertas – pola
aktivitas seksual yang mantap, (12-16 tahun).
Perubahan fisik
usia pubertas mengembangkan hasrat seksual (just) pada periode awal
adolsen. Banyak problem yang muncul pada periode ini merefleksikan konflik
antar tiga kebutuhan dasar: keamanan (bebas dari kecemasan), keintiman
(pergaulan akrab dengan seks lain) dan kepuasan seksual.
Kepuasan
seksual bertentangan dengan operasi keamanan, karena aktivitas genital pada
usia ini terlarang pada banyak budaya sehingga menimbulkan perasaan berdosa,
malu, dan cemas. Keintiman bertentangan dengan keamanan, karena mengubah
keintiman sesama jenis menjadi keintiman dengan jenis kelamin pasangan akan
menimbulkan perasan takut, ragu-ragu dan kehilangan harga diri.
Sullivan
berpendapat bahwa adolsen awal adalah titik balik dalam perkembangan
kepribadian. Orang harus dapat mengatasi kebutuhan intimasi dan dorongan
seksual tanpa terganggu rasa amanya. Kalu tidak dapat di lakukan maka dia akan mengahadapi kesulitan yang serius pada tahap
perkembangannya.
6.
Adolsen Akhir (Late Adolescence); kemantapan seks
– tanggung jawab sosial (16-Awal 20 an)
Periode ini
sampai pemuda mengenal kepuasan dan tanggung jawab dari kehidupan sosial dan
warga negara dewasa. Tahap ini harus memperluas tingkat pemahamannya mengenai
sikap hidup orang lain dan cara menangani berbagai macam masalah. Tahap ini di
tandai dengan pemantapan hubungan cinta dengan satu pasangan. Dalam tahap ini
maka akan banyak mengahadapi beberapa masalah.
Pencapaian
akhir periode ini adalah self-respect, yang menjadi syarat untuk
menghargai orang lain
7.
Kemasakan (Maturity)
Setiap
prestasi yang terdahulu akan menjadi
bagian-bagian kepribadian yang masak. Jadi dewasa yang masak hendaknya sudah
belajar memuaskan kebutuhan-kebutuhan yang penting dan kerjasama dan
berkompetisi dengan orang lain, mempertahankan hubungan dengan orang lain yang
memberi kepuasan intimasi dan seksual dan berfungsi secara efektif dalam masyarakat di mana dia berada.
E.
Aplikasi teori Sullivan
1. Gangguan Mental
Menurut Sullivan, semua gangguan mental berasal dari
cacat hubungan interpersonal dan hanya dapat dipahami melalui referensi
lingkungan sosial orang itu. Sullivan banyak menangani schizophrenia yang dia
bedakan menjadi dua; schizophrenia yang menunjukkan simptom organik dan
schizophrenia yang disebabkan faktor sosial. Schizophrenia kedua inilah yang
perubahan dan perbaikannya dilakukan melalui psikiatri interpersonal.
2. Psikoterapi
Umumnya terapi model Sullivan mula-mula berusaha untuk mengungkap kesulitan
klien dalam berhubungan dengan orang lain, dan berusaha untuk mengganti
motivasi disjungtif (berpisah) dengan motivasi konjungtif (bergabung). Motivasi
konjungtif menyatakan kepribadian dan membuat klien bisa memuaskan kebutuhan
dan meningkatkan perasaan amannya. Sullivan membagi interview dalam empat
tahapan; pembukaan (formal inception), pengamatan (reconnaissance), pertanyaan
detail (detailed inquiry), dan pemberhentian (termination).
No comments:
Post a Comment