Monday, November 2, 2015

PSIKIATRI INTERPERSONAL

BAB I
PENDAHULUAN
A.                Latar Belakang
Setiap tokoh psikologi kepribadian mempunyai ciri khas masing-msing dari teori yang mereka kembangkan. Salah satu tokoh psikologi kepribadian adalah Harry Stack Sullivan. Harry Steak Sulivan adalah orang pertama kelahiran Amerika Serikat yang mengembangkan teori kepribadian. Menurutnya, kepribadian adalah pola yang relatif menetap dari situasi-sitausi antara pribadi yang berulang, yang menjdai ciri kepribadian manusia. Kepribadian itu konstruk hipotesis yang dapat diamati dalam konteks tingkah laku interpersonal. Sepanjang hayat setiap orang bergerak dalam lingkungan sosial, sejak bayi sudah terlibat dengan interaksi dengan orang lain. Bahkan ketika orang sendirian pun, orang lain muncul dalam fikiran, perasaan, dan fantasinya. Sullivan tidak menyangkal pentingnya hereditas dan pematangan dalam membentuk dan membangun kepribadian. Namun ia berpendapat apa yang khas manusiawi adalah interaksi sosial. Pengalaman hubungan antar pribadi telah merubah fungsi fisiologik organisme (sehingga manusia kehilangan kesatuan biologiknya) menjadi organisme sosial, bahkan sosialisasi telah merubah proses bilogisk yang paling mendasar (bernapas, pencernaan, eliminasi). Prikiatri tidak dapat dipisahkan dari psikologi sosial.
sangat penting bagi kita semua untuk mengetahui siapa Harry Stack Sullivan beserta teorinya agar wawasan yang kita miliki semakin luas. Oleh karena itu, dalam makalah ini akan diuraikan tokoh Sulllivan sebagai salah satu tokoh psikiatri dan juga tokoh psikologi kepribadian.

B.                 Rumusan Masalah
1.    Bagaimana sejarah hidup Harry Stack Sullivan?
2.    Apa saja struktur kepribadian manusia menurut pandangan Sullivan?
3.    Bagaimana dinamika kepribadian manusia menurut Sullivan?
4.    Bagaimana perkembangan kepribadian maunsia menurutSullivan?
5.    Apa saja aplikasidari teori yang dikemukakan oleh Sullivan?


C.                Tujuan Penulisan
1.    Mengetahui biografi singkat Sullivan
2.    Mengetahui struktur kepribadian manusia menurut pandangan Sullivan
3.    Mengetahui dinamika kepribadian manusia menurut Sullivan
4.    Mengetahui perkembangan kepribadian maunsia menurutSullivan
5.    Mengetahui aplikasi dalam kehidupan manusia berdasarkan teori yang dikemukakan oleh Sullivan


BAB II
PEMBAHASAN
A.                Biografi Harry Stack Sullivan
Harry satck sullivan lahir di suatu daerah dekat Norwich, New York, pada tanggal 21 Februari 1892. Dia meraih gelar dokternya dari Chicago College of Medcine and surgery pada tahun 1917 dan bekerja pada angakatan bersenjata selama perang dunia 1. Setelah itu ia menjadi petugas medis pada Federal Board For Vocational education dan kemudian bertugas pada Public Health Service. Pada tahun 1922, Sullivan pergi ke rumah sakit Santa Elizabeth di Washington  D. C., di mana ia berada di bawah pengaruh William Alanson White, seorang pakar dalam ilmu Neuroppsikiatri di Amerika.
Dari tahun 1923 sampai awal tahun 1930 ia bekerja pada fakultas Kedokteran, Universitas Maryland dan pada Sheppard and Enoch Pratt Hospital di Townson, Maryland. Selama periode kehidupan inilah, Sullivan mengadakan penelitian-penelitian tentang skizofernia yang membuatnya terkenal sebagai ahli klinik. Ia meninggalkan Maryland untuk membuka kantor di Park Avenue di New York City dengan tujuan untuk menyelidiki proses obsesi pada pasien-pasien kantor. Pada saat itu, ia memulai pendidikan analitik formalnya di bawah bimbingan Clara Thompson, seorang murid dari Sandor Ferenczi. Ini bukanlah perkenalan Sullivan untuk pertama kalinya dengan psikoanalisis. Ia telah melakukan analisis selama 75 jam ketika ia masih masih menjadi mahasiswa kedokteran. Pada tahun 1933 menjadi ketua William Alanson White Fondation sampai tahun 1943. Pada tahun 1936 ia membantu yayasan  itu dengan menjadi direktur Washington School of Psychiatry. Jurnal Psychiatry mulai diterbitkan pada tahun 1938 untuk mempromosikan teori Sullivan tentang hubungan-hubungan antarpribadi. Ia menjadi pembantu redaktur majalah tersebut dan kemudian menjadi redaktur sampai dia meninggal. Dan meninggal pada tanggal 14 januari 1949 di Paris, Perancis ketika dalam perjalanan pulang dari pertemuan badan eksekutif World Federation For Mental Health di Amsterdam.

B.                 Stuktur Kepribadian
Sullivan tegas memandang sifat dinamik kepribadian, sehingga merendahkan konsep id-ego-superego dan lain-lain yang membuat kepribadian menjadi statis atau stabil. Namun ternyata dia juga memberikan tempat penting dalam teorinya, beberapa aspek kepribadain ynag nyata-nyata stabil dalam waktu yang lama yaitu dinamisme, personifikasi, sistem self, dan proses kognitif.
1.      Dinamisme (dynamisn)
Dinamisme adalah pola khas tingkah laku (transformasi energi) yang menetap dan terjadi secara berulang yang menjadi ciri khas seseorang. Pola tingkah laku itu menetap dan berulang sehingga kurang lebih sama dengan kebiasaan.
Dinamisme yang melayani kebutuhan kepuasan organisme melibatkan bagian tubuh, yakni alat reseptor, efektor, dan sistem syaraf. Misalnya dinamisme makan melibatkan mulut dan otot leher, dinamisme seks melibatkan organ genital. Suatu kebiasaan bagaimana mereaksi orang lain, baik dalam bentuk perasaan, sikap, maupun tingkah laku terbuka. Dinamisme dengki (memusuhi orang atau kelompok tertentu); dinamisme nafsu (kecenderungan mencari hubungan birahi); dinamisme ketakutan (anak yang bersembunyi dibelakang ibunya setiap menghadapi orang asing, dan dinamisme sistem self).
2.      Personifikasi (personification)
Personifikasi adalah suatu gambaran mengenai diri atau orang lain yang dibangun berdasarkan pengalaman yang menimbulkan  kepuasan atau kecemasan. Hubungan interpersonal yang memberi kepuasan cenderung membangkitkan image positif, sebaliknya yang melibatkan kecemasan membangkitkan image negatif.
Gambaran tentang diri sendiri yang berkembang adalah saya yang baik (good me) yang dikembangkan dari pengalaman hadiahi, dimulai dengan hadiah kepuasan makan. Personifikasi saya buruk (bad me) dikembangkan dari pengalaman kecemasan akibat perlakuan ibu atau pengalaman ditolak atau dihukum. Good me dan bad me bergabung ke dalam gambaran diri. Personifikasi diri yang ketiga, bukan saya (not-me) dikembangkan dari pengalaman kecemasan yang sangat, seperti kekerasan fisik atau mental. Not-me menggambarkan aspek yang dipisahkan dari self dan disertai dengan emosi unkani (uncanny) atau emosi yang mengerikan dan berbahaya. Orang yang mengalami gangguan mental yang serius, mungkin berhadapan dengan bukan saya sebagai sesuatu yag sangat nyata. Sejumlah orang bisa memiliki personifikasi yang seragam mengenai sesuatu yang disebut stereotype. Inilah konsepsi-konsepsi yang diakui bersama, diterima bersama, diterima secara luas di masyarakat bahkan diwariskan antar generasi.
3.      Sistem self (self system)
Sistem self merupakan bagian dinamisme yang paling kompleks. Sistem ini mulai berkembang pada usia 12-18 bulan, usia ketika anak mulai belajar tingkah laku mana yang berhubungan-meningkatkan atau menurunkan-kecemasan. Pada mulanya bayi hanya mengenalkan keadaan takut dan sakit sebagai hal yang tidak menyenangkan. Ibu atau peran keibuan mengajari anak dengan ganjaran dan hukuman, dan dari hukuman inilah muncul kecemasan. Dari kecemasan tersebut, orang berusaha mempertahankan diri melawan tegangan interpersonal itu memakai operasi keamanan (securyty operations). Ada beberapa macam operasi keamaan yang dipakai sejak usia bayi, disosiasi (dissosiation), inatensi (innatention), apati (apathy), dan pertahanan tidur (somnolen detachnent).
a.       Disosisasi adalah mekanisme menolak impuls, keinginan, dan kebutuhan muncul ke kesadaran. Disosiasi tidak hilang, tetapi ditekan ke ketidaksadaran dan mempengaruhi kepribadain dan tingkah laku dari sana. Misalnya, melalui mimpi, lamuna, dan aktifitas tak sengaja yang semuanaya diarahkan untuk mempertahankan keamanan interpersonal.
b.      Inatensi adalah operasi keamanan yang berusaha menghadapi pengalaman yang mengancam personifikasi diri, dengan cara orang berpura-pura tidak merasakannya. Memilih mana pengalaman yang akan diperhatikan dan mana yang tidak perlu diperhatikan.
c.       Apati (aphaty) dan pertahanan dengan tidur mirip dengan inatensi, pada apatis bayi, tidak memilih obyek mana yang harus diperhatikan, semuanya diserahkan kepada pihak luar. Pada pertahana tidur bayi, tidak perlu memeperhatikan stimulasi yang manapun.

4.      Proses kognitif (cognitive process)
Proses kognitif atau pengalam kognitif manusia menurut sullivan dapat dikelompokkan menjadi tiga macam, mengikuti alur perkembangan dan kemasakan organisme, yakni:
a.    Prototaksis (prototaxis) adalah rangkaian pengalaman yang terpisah-pisah yang dialami pada masa bayi, di mana arus kesadaran (kesadaran, bayangan, dan perasaan) mengalir ke dalam jiwa tanpa pengertian “sebelum” dan “sesudah”. Semua pengetahuan bayi adalah pengetahuan saat itu, di sini, dan sekarang.
b.    Parataksis kira-kira pada awal tahun kedua, bayi mulai mengenali persamaan-persamaan dan perbedaan peristiwa yang disebut dengan pengalaman parataksis atau pengalaman asosiasi. Pada tahap ini, bayi mengembangkan cara berpikir melihat hubungan sebab akibat, asosiasional peristiwa yang terjadi pada saat yag bersamaan atau peristiwa yang mempunyai detile yang sama, tetapi hubungannya tidak harus logis. Mislanya, bayi yang diberi makan saus apel memakai sendok yang terlau panas (karena disiram air panas) sehingga lidahnya menjadi sakit. Bayi itu menolak makan bukan karena saus apel, tetapi karena sendok.
c.    Sintaksis. Berpikir logika dan realistik, menggunakan lambang-lambang yang diterima bersama, khususnya bahasa-kata-bilangan. Ketika anak mulai belajar berbicara, mempelajari “kata” yang secara umum diterima sebagai wakil dari suatu peristiwa, saat itulah anak mulai berpikir sintaksis. Sintaksis menghasilkan hubungan logis natar pengalaman dan memungkin orang berkomunikasi satu dengan yang lainnya, melalui proses falidasi konsensus mengenai sesuatu dan kemudia meyakinkan kebenaanyya melalui pengulangan pengalaman. Normalnya, sistaksis mulai mendominasi sejal usia 4-10 tahun.

C.                Dinamika kepribadian
Sullivan memandang kehidupan manusia sebagai sistem energi, di mana perhatian utamanyan adalah bagaimana menghilangkan tegangan yang ditimbulkan oleh keinginanan dan kecemasan. Energi dapat terwujud dalam bentuk-bentuk di bawah ini:
1.      Tegangan (tension)
Tension adalah potensi untuk bertingkah laku yang disadari atau tidak diasadari. Sumber ketegangan itu ada dua, yaitu:
a.       Kebutuhan (needs). Kebutuhan yang mula pertama muncul adalah tegangan yang timbul akibat ketidak seimbangan biologis di dalam diri individu atau ketidak seimbangan fisiokimia antara individu dengan lingkungannya. Need biologic dipuaskan dngan memberi pasokan yang dapat mengembalikan keseimbangan. Memuaskan kebutuhan dapat menghilangkan tension. Kegagalan memuaskan need, kalau berkepanjangan dapat menimbulkna keadaan apathy (kelesuan) yaitu bentuk penundaan kebutuhan untuk meredakan tegangan secara umum.
b.      Kecemasan (anxiety). Kecemasan menurut sullivan merupakan pengaruh pendidikan yang paling besar sepanjang hayat, disalurkan mula-mula oleh pelaku keibuan kepada bayinya. Jika ibu mengalami kecemasan, dia akan menyatakannya pada wajahnya, irama katanya, dan tingkah lakunya, dan bayi akan terinduksi sehingga merasakan kecemasan seperti yang dicemaskan ibunya. Proses ini oleh Sullivan dinamakan empati. Sering tanda adanya kecemasan dan ketidak amanan yang dimunculkan bayi diartikan sebagai kebutuhan (need) oleh orang tua. Kecemasan juga menimbulkan dampak yang buruk kepada orang dewasa, bahkan kecemasan menjadi kekuatan perusaj yang terpenting yang menghambat perkembangan hubungan interpersonal.

2.      Transformasi energi (energy transformation)
Tegangan yang ditransformasikan menjadi tingkah laku, baik tingkah laku terbuka maupun tertutup. Tingkah laku hasil transformasi itu meliputi gerakan yang kasat mata, dan kegiatan mental seperti perasaan, dan fikiran, persepsi, dan ingatan. Bentuk-bentuk kegiatan yang mampu mengurangi tegangan menurut Sullivan dipelajari dan ditentukan oleh masyarakat di mana orang itu dibesarkan. Apa yang dapat ditemukan pada masa lalu setiap orang adalah tegangan-tegangan dan pola transformasi enerji untuk meredakannya, yang menjadi saranan pendidikan menyiapkan anak menjadi anggota masyarakatnya. Transformasi enerji tidak lagi dipengaruhi insting dan lebih sebagai hasil belajar.

D.                Perkembangan Kepribadian
1.    Bayi (Infancy); lahir-bisa berbicara (0-18 bulan)
Perhatian utama bayi adalah makan, sehingga obyek pertama yang menjadi pusat perhatiannya adalah puting susu ibu (atau puting botol). Puting yang mewakili ibu setidaknya itu menimbulkan paling tidak 3 image, sesuai dengan pengalaman bayi dengan puting itu;
a.         Puting bagus (good nipple). Puting yang lembut penuh kasih sayang dan menjanjikan kepuasan fisik (bisa terjadi, good nipple tidak memuaskan karena diberikan kepada bayi yang tidak lapar).
b.        Bukan puting (not nipple). Puting yang salah karena tidak mengeluarkan air susu, bahkan merupakan tanda penolakan dan isyarat mencari puting yang lain.
c.         Puting buruk (bad nipple). Puting dari ibu yang cemas, tidak memberi kasih sayang dan kepuasan fisik.
Pengalaman makan itu, akan membentuk personifikasi ibu, puting bagus menjadi ibu baik (good mother) dan buka puting atau puting buruk menjadi ibu buruk (bad mother). Personifikasi ibu menjadi awal dari personifikasi diri sendiri. Bayi mulai membentuk gambaran saya baik, bukan saya dan saya buruk (good me-not me-bad me), yang menjadi dasar pemahaman diri.
2.    Anak (Childhood); bisa mnegucap kata-butuh kawan bermain (1,5-4 tahun)
Tahapan anak dimulai dengan perkembangan bicara dan belajar berpikir sintaksis serta perluasan kebutuhan untuk bergaul dengan kelompok sebaya. Misalnya, ibu baik dan ibu buruk menyatu dalam gambaran orang yang dipanggil; ibu. Anak mulai belajar menyembunyikan aspek tingkah laku yang diyakininya dapat menimbulkan kecemasan atau hukuman. Mereka memiliki tampilan seolah-olah (as if permormance):
a.       Dramatisasi (dramatization): permainan peran seolah orang dewasa, belajar mengidentifikasikan diri dengan orang tuanya, bagaimana bertingkah laku yang dapat diterima.
b.      Bergaya sibuk (preoccupation): anak belajar konsentrasi pada satu kegiatan yang memebuat mereka bisa menghindari sesuatu yang menekan dirinya.
c.       Transformasi jahat (malefolent transformation): transformasi jahat-perasaan bahwa dirinya hidup ditengah-tengah musuh, sehingga hidupnya penuh rasa kecurigaan dan ketidakpercayaan bahkan smapai tingkah laku yang paranoid.
d.      Sublimasi tak sadar (unwitting sublimation): mengganti sesuatu atau aktifitas (tak sadar) yang dapat menimbulkan kecemasan dengan aktifitas yang dapat diterima secara sosial.
Masa anak ditandai dengan emosi yang mulai timbal balik, anak disamping menerima juga bisa memberi kasih sayang. Masa anak juga bisa ditandai dengan akulturasi yang cepat. Disamping menguasai bahasa anak belajar pola kultural dalam kebersihan, latihan toilet, kebiasaan makan.

3.    Remaja awal (juvenile): usia sekolah-berkeinginan bergaul intim (4-10 tahun)
       Tahap ini berlangsung sepanjang usia sekolah dasar sampaianak membutuhkan persahabatan yang akrab, sekitar usia epuluh tahun. Perkembangan penting dlaa tahap ini adalah locatan sosial kedepan, anak belajar kompetisi, kompromi, kerjasama, dan memahami makna perasaan kelompok. Tahap ini ditandai dengan munculnya konsepsi tentang orientasi hidup, suatu rumusan atau wawasan tentang:
a.       Kecenderungan atau kebutuhan untuk berintegrasi yang biasanya memberi ciri pada hubungan antar pribadinya.
b.      Keadaan-keadaan yang cocok untuk pemuasan kebutuhan dan relatif bebas dari kecemasan.
c.       Tujuan-tujuan jangka panjang yang untuk mencapainya orang perlu untuk menangguhkan kesempatan-kesempatan menikmati kepuasan jangka pendek.
Perkembangan negatif yang penting dalam tahap ini adalah stereotip, ostrasisme, dan disparajemen.
a.       Prasangka atau stereotip adalah meniru atau memakai personifikasi mengenai orang atau kelompok orang yang diturunkan antar generasi.
b.      Pengasingan atau ostrasisme adalah pengalaman anak diisolasi secara paksa, dikeluarkan atau dikeluarkan dari kelompok sebaya karna perbedaan sifat individual dengan kelompok.
c.       Penghinaan atau disparajemen, berarti meremehkan atau menjatuhkan orang lain yang akan berpengaruh merusak hubungan interpersonal pada usia dewasa.

4.    Preadolesen (preadolescence); mulai bergaul akrab-pubertas (8/10-12 tahun).
Periode ini sangat singkat, berakhir sampai pubertas, tetapi sangat penting. Ini ditandai oleh awal kemampuan bergaul akrab dengan orang lain, bercirikan persamaan yang nyata dan saling memperhatikan. Menurut Sullivan, melalui persahabatan karib (chumship) remaja mungkin dapat memecahkan masalah pada tahap sebelumnya sepertisikap malefolent atau kecenderungan disparajemen. Melalui chum nak belajar bahwa orang dapat memberikan kelembutan, perhatian, dan hormat. Hasilnya tidak perlu menyiapkan kemarahan atau menyerang harga diri orang lain. Tanpa chum, preadolsen mungkin menjadi korban kesendirian yang menyedihkan  yang lebih buruk daripada kecemasan, dan menjadi hambatan berat dalam menyelesaikan tugas adolesen.

Tahap preadolsen di tandai oleh beberapa fenomena berikut:
a.       orang tua masih penting. Tetapi mereka di nilai secara lebih realistik.
b.      Mengalami cinta yang tidak mementingkan diri sendiri, dan belum di rumitkan oleh   hawa nafsu seks.
c.       Terlibat dalam kerja sama untuk kebahagian bersama, tidak mementingkan diri sendiri.
d.      Kolaborasi chum, kalau tidak di pelajari dalam tahap ini, akan membuat tahap perkembangan kepribadian berikutnya akan terhambat.
e.       Hubungan chum dapat mengatasi/menghilangkan pengaruh simptom salah suai yang di peroleh dari perkembangan tahap sebelumnya.

5.        Adolsen Awal (Early Adolescence); pubertas – pola aktivitas seksual yang mantap, (12-16 tahun).
Perubahan fisik usia pubertas mengembangkan hasrat seksual (just) pada periode awal adolsen. Banyak problem yang muncul pada periode ini merefleksikan konflik antar tiga kebutuhan dasar: keamanan (bebas dari kecemasan), keintiman (pergaulan akrab dengan seks lain) dan kepuasan seksual.

Kepuasan seksual bertentangan dengan operasi keamanan, karena aktivitas genital pada usia ini terlarang pada banyak budaya sehingga menimbulkan perasaan berdosa, malu, dan cemas. Keintiman bertentangan dengan keamanan, karena mengubah keintiman sesama jenis menjadi keintiman dengan jenis kelamin pasangan akan menimbulkan perasan takut, ragu-ragu dan kehilangan harga diri.

Sullivan berpendapat bahwa adolsen awal adalah titik balik dalam perkembangan kepribadian. Orang harus dapat mengatasi kebutuhan intimasi dan dorongan seksual tanpa terganggu rasa amanya. Kalu tidak dapat di lakukan maka dia akan  mengahadapi kesulitan yang serius pada tahap perkembangannya.
6.        Adolsen Akhir (Late Adolescence); kemantapan seks – tanggung jawab sosial (16-Awal 20 an)
Periode ini sampai pemuda mengenal kepuasan dan tanggung jawab dari kehidupan sosial dan warga negara dewasa. Tahap ini harus memperluas tingkat pemahamannya mengenai sikap hidup orang lain dan cara menangani berbagai macam masalah. Tahap ini di tandai dengan pemantapan hubungan cinta dengan satu pasangan. Dalam tahap ini maka akan banyak mengahadapi beberapa masalah.
Pencapaian akhir periode ini adalah self-respect, yang menjadi syarat untuk menghargai orang lain
7.        Kemasakan (Maturity)
Setiap prestasi  yang terdahulu akan menjadi bagian-bagian kepribadian yang masak. Jadi dewasa yang masak hendaknya sudah belajar memuaskan kebutuhan-kebutuhan yang penting dan kerjasama dan berkompetisi dengan orang lain, mempertahankan hubungan dengan orang lain yang memberi kepuasan intimasi dan seksual dan berfungsi  secara efektif dalam  masyarakat di mana dia berada.


E.                 Aplikasi teori Sullivan
1.      Gangguan Mental
Menurut Sullivan, semua gangguan mental berasal dari cacat hubungan interpersonal dan hanya dapat dipahami melalui referensi lingkungan sosial orang itu. Sullivan banyak menangani schizophrenia yang dia bedakan menjadi dua; schizophrenia yang menunjukkan simptom organik dan schizophrenia yang disebabkan faktor sosial. Schizophrenia kedua inilah yang perubahan dan perbaikannya dilakukan melalui psikiatri interpersonal.

2.      Psikoterapi

Umumnya terapi model Sullivan mula-mula berusaha untuk mengungkap kesulitan klien dalam berhubungan dengan orang lain, dan berusaha untuk mengganti motivasi disjungtif (berpisah) dengan motivasi konjungtif (bergabung). Motivasi konjungtif menyatakan kepribadian dan membuat klien bisa memuaskan kebutuhan dan meningkatkan perasaan amannya. Sullivan membagi interview dalam empat tahapan; pembukaan (formal inception), pengamatan (reconnaissance), pertanyaan detail (detailed inquiry), dan pemberhentian (termination).

No comments:

Post a Comment